Tak Ada Krisis bagi yang Kreatif

Posted: May 28, 2009 in Aksi, Craft, Design, Ekonomi, Industri, Industri Kreatif, Kebijakan, Kerjasama, UMKM

Jumat, 29 Mei 2009 | 04:03 WIB

KOMPAS.com – Di tengah lesunya pertumbuhan ekonomi global, industri kreatif di Indonesia tetap berdenyut. Krisis memang tak berlaku bagi mereka yang kreatif. Sejumlah pelaku ekonomi kreatif yang bergerak di bidang desain, percetakan, dan kemasan mencatat pertumbuhan tinggi. Direktur Kreatif Petakumpet M Arief Budiman mengatakan, lonjakan transaksi perusahaannya tahun ini naik dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu. ”Awal tahun ini kami mendapat pesanan dari klien berskala internasional,” kata Arief yang perusahaannya bergerak di bidang desain periklanan. Tahun 2000, omzet Petakumpet baru Rp 133 juta. Tahun berikutnya naik menjadi Rp 360 juta. Pada tahun 2002, omzetnya melonjak menjadi Rp 773 juta. ”Omzet kotor perusahaan rata-rata Rp 8 miliar per tahun. Tahun ini kami perkirakan tembus Rp 1 triliun,” kata Arief yang merintis Petakumpet bersama temantemannya sejak masih kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Rudy Tjahjadi, Direktur Manajemen Admire, perusahaan percetakan dan desain kemasan, mengatakan, kenaikan omzet perusahannya pada kuartal kedua tahun ini mencapai 20 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. ”Perusahaan tetap butuh beriklan untuk menjaga citra produk mereka,” k a t a ny a . Menurut Direktur Digital Studio Workshop Andi S Boediman, beberapa klien besar yang sebelumnya memakai jasa dari luar negeri kini mengalihkan ke dalam negeri dengan alasan pengetatan anggaran. Di bidang desain arsitektur, menurut arsitek yang juga Ketua Bandung Creative City Forum Ridwan Kamil, penurunan order hanya terjadi untuk proyek dari luar negeri. Proyek di dalam negeri, khususnya untuk bangunan rumah tinggal, hampir tak terpengaruh krisis. Tak semua agensi pelaku industri kreatif mampu bertahan di tengah krisis. Dalam dua tahun terakhir, dari 500 agensi periklanan, menyusut hingga tinggal 200-an. Menurut Arief, kunci untuk bertahan di tengah krisis adalah kreativitas. Strategi Petakumpet, menurut Arief, adalah mengepung Jakarta dari Yogyakarta. Caranya, dengan mencari klien di Jakarta, tetapi kegiatan produksi di Yogyakarta. Dengan kegiatan produksi di Yogyakarta, Petakumpet mendapatkan beberapa kelebihan, misalnya sumber daya manusia yang murah dan segar. ”Kami bisa menjual produk dengan harga bersaing. Ini bisa menjadi nilai lebih dibandingkan pesaing,” katanya . Arief menyebutkan, Petakumpet juga terus melebarkan jejaring bisnis. Tak terbatas di bidang periklanan dan promosi, mereka juga melayani desain logo dan brandname perusahaan, pembuatan brosur, kalender, desain presentasi dan web , serta ilustrasi. Rudy mengemukakan hal senada. ”Kreativitas adalah kunci untuk bertahan. Produk desain kami harus lebih inovatif dan kami juga dituntut lebih kolaboratif dengan pemberi order,” katanya. Sedangkan Andi Boediman mengatakan, pelaku industri kreatif mesti jeli membaca tren terbaru. ”Pertumbuhan iklan dengan media cetak memang melambat, tetapi iklan dalam bentuk digital di media online tumbuh pesat. Celah ini harus dimanfaatkan,” ujarnya . Tanpa rel Peneliti industri kreatif yang juga pengajar di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung, Togar M Simatupang, optimistis pelaku industri kreatif di Indonesia dapat bertahan saat krisis. ”Masyarakat kita punya daya tahan tinggi dalam menghadapi krisis. Masalahnya, bagaimana menyiapkan fondasi ekonomi kreatif ini agar berkelanjutan dan bisa bersaing dengan pelaku di negara lain,” kata Togar. Andi mengatakan, kelemahan dasar ekonomi kreatif di Indonesia adalah tiadanya rel atau platform. ”Pelaku kreatif atau lokomotifnya sudah banyak, tetapi aturan mainnya tidak jelas,” ujarnya. Cetak biru industri kreatif yang dibuat pemerintah sejak 2008 nyatanya tak jelas implementasinya. Jaringan Ekonomi Kreatif Indonesia juga belum terdengar gaungnya. Pelaku industri kreatif masih jalan sendiri- sendiri dan tertatih membangun jaringan sendiri. Menurut Andi, perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) pelaku industri kreatif masih tetap menjadi masalah. Selain itu, akses pembiayaan dan iklim usaha juga belum membaik. Direktur Kreatif Hello Motion Inc Wahyu Aditya mengatakan, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di bidang animasi, pemerintah bisa mencontoh China atau Korea. Stasiun televisi di China diwajibkan menayangkan animasi buatan lokal pukul 17.00-21.00. Sedangkan di Korea, stasiun televisi diwajibkan menayangkan animasi baru buatan lokal minimal 0,1 persen dari keseluruhan jam tayang setiap tahunnya. ”Saat ini aturan bagi stasiun televisi kita menayangkan 60 persen muatan lokal, kebanyakan diisi dengan sinetron dan tayangan gosip,” kata Wahyu. Wahyu menambahkan, produk animasi dalam negeri sudah siap, tetapi terkendala pada kurangnya daya serap pasar. Akibatnya, beberapa animator dan pelaku industri kreatif lain hengkang ke luar negeri. ”Tenaga kreatif yang meninggalkan Bandung mencapai 60 persen,” kata Ridwan Kamil. Jika selama ini pelaku industri kreatif di Indonesia bisa tumbuh sendiri dan sanggup bertahan di kala krisis, saatnya pemerintah mengambil peran yang lebih nyata dengan memperbaiki regulasi, iklim usaha, dan akses terhadap modal. Jika tidak, makin banyak tenaga kreatif yang pergi. (AHMAD ARIF)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s