Tunda Lelang Agunan Ngadiran

Posted: April 8, 2009 in Aksi, Ekonomi, Kebijakan, Kredit Lunak, UMKM

Kriteria Korban Gempa Perlu Diperjelas

Referensi: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/06/11460876/tunda.lelang.agunan.ngadiran

Yogyakarta, Kompas – Meskipun Bank Syariah Mandiri menyatakan Ngadiran bukan korban gempa, Tim Ad Hoc Penyelesaian Kredit UMKM Pascagempa DIY tetap meminta agar lelang ditunda. Bank Syariah Mandiri perlu memberi waktu tambahan sehingga Ngadiran bisa menjual aset lain untuk melunasi utang.

Nurul Muslimin dari Sekretariat Tim Ad Hoc, Minggu (5/4), mengatakan pihaknya telah menerima surat dari Bank Syariah Mandiri (BSM) yang berisi penjelasan tentang kasus Ngadiran. BSM menyebutkan bahwa lelang agunan bisa ditunda. Syaratnya, Ngadiran harus membayar 50 persen utangnya, atau sekitar Rp 25 juta, maksimal pada dua hari sebelum hari pelelangan.

Nurul Muslimin

Nurul Muslimin

Menurut Nurul, waktu yang diberikan BSM terlalu singkat. Ngadiran hanya punya waktu dua hari untuk mengumpulkan uang karena lelang akan dilakukan pada 8 April mendatang. “Kami sudah membicarakan ini dengan Ngadiran. Ia benar-benar tidak mampu karena tidak punya aset yang bisa langsung dijual,” ucapnya.

Nurul menambahkan, lelang juga perlu ditunda karena status Ngadiran sebagai korban gempa belum jelas. Dalam suratnya BSM memang menyatakan, Ngadiran bukan termasuk nasabah korban gempa. Namun, kriteria korban gempa perlu dibicarakan karena belum ada aturan tegas soal itu.

Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 8/10/PBI/2006 tentang Perlakuan Khusus bagi Debitur Korban Gempa juga tak menjelaskan siapa saja yang bisa disebut sebagai korban gempa. “Karena kriterianya belum jelas, kami meminta pelelangan ditunda setidaknya hingga PBI ini berakhir pada Juni 2009 nanti,” kata Nurul.

Kasus ini bermula saat Ngadiran mengambil kredit dari BSM sebesar Rp 55 juta pada tahun 2004. Ia memakai sertifikat tanah milik Muhadi Mudzakir sebagai agunan.

Ngemplang NO!!!

Ngemplang NO!!!

Pada tahun pertama, Ngadiran yang membuka usaha kusen pintu ini mengaku mampu membayar angsuran. Namun, ketika harga bahan bakar minyak (BBM) naik tahun 2005, usahanya surut hingga kemampuannya mengangsur menurun.

Gempa bumi tahun 2006 memperparah kondisinya. Ia tidak bisa membayar angsuran sehingga utangnya membengkak menjadi sekitar Rp 51 juta. Akibatnya, agunan berupa tanah dan bangunan milik Muhadi Mudzakir kini terancam dilelang.

Siap melelang

Sebelumnya, Manajer Operasional BSM Cabang Yogyakarta Ririn Indarwati menjelaskan bahwa Ngadiran sudah kesulitan mengangsur sejak sebelum gempa. Dengan begitu, gempa bumi bukan pemicu utama kredit macet yang menimpanya. Rencana lelang agunan milik Ngadiran telah diumumkan di sebuah koran lokal.

Secara terpisah, Kepala Seksi Pelayanan Lelang, Kantor Pelayanan Kekayaan dan Lelang Negara (KPKLN) Yogyakarta, Supriyanto mengaku siap melelang agunan milik Ngadiran. Ia menuturkan, lelang agunan tersebut sudah memenuhi syarat. BSM juga melampirkan pernyataan bahwa Ngadiran bukan korban gempa.

“Kuncinya ada di bank. Kami hanya menjalankan tugas sesuai ketentuan,” ucapnya. (ARA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s