Tenaga Kerja: Mereka Belum Butuh Karyawan Baru

Posted: March 27, 2008 in Industri, Tenaga Kerja

  Oleh Eny Prihtiyani

www.kompascetak.com  

Siang itu salah seorang mantan karyawan PT Pancaran Harapan Nusa bernama Muji mendatangi kembali perusahaan tempat ia bekerja dulu. Sayang, si pemilik tidak bisa mempekerjakan kembali karena kondisi perusahaan yang kolaps akibat gempa, sampai saat ini belum pulih. Hampir seluruh karyawan yang berjumlah 70 orang terpaksa kehilangan pekerjaan.

Sekarang saya lagi butuh pekerjaan. Kemarin sewaktu perusahaan kolaps saya putar haluan jadi kuli bangunan karena upahnya juga lumayan. Tetapi, sekarang pembangunan rumah sudah hampir usai. Jadi, saya butuh pekerjaan baru. Saya coba datangi perusahaan lama ternyata kondisinya masih sama,” katanya, Jumat (4/1).

Nasib serupa dialami Lasa dan Ganet, mantan karyawan Mudyar Ceramic Pundong. Mereka kelimpungan mencari pekerjaan karena perusahaan juga belum bisa mempekerjakan kembali. “Saya sudah coba- coba lamar ke berbagai perusahaan, tetapi mereka tidak membutuhkan karyawan,” ujar Lasa.

Menurut Pimpinan PT Pancaran Harapan Nusa Jadin C Jamaludin, pihaknya belum bisa menerima karyawan baru karena proses produksi masih terhenti. “Meski gempa sudah berlalu selama 1,5 tahun, kondisi kami masih saja kolaps karena minimnya perhatian pemerintah terhadap dunia usaha. Karena sulit bertahan, karyawan terpaksa diberhentikan,” ungkapnya.

Jadin menuturkan, fokus rekonstruksi pascagempa hanya diprioritaskan pada pembangunan rumah, sementara pemulihan ekonomi khususnya sektor usaha mikro kecil dan menengah masih terabaikan. Bahkan, beban pinjaman di bank juga tidak mendapatkan keringanan, meski sudah ada program restrukturisasi kredit. “Restrukturisasi hanya menunda pembayaran pokok dan bunga, sementara keringanan bunga dan pokok yang harus disetorkan tidak ada,” ujarnya.

Para mantan buruh itu sedikit tertolong dengan proyek pembangunan fisik rumah yang didanai sejumlah lembaga donor. Menurut data Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah DI Yogyakarta, setiap 30.000 unit rumah membutuhkan sekitar 47.000 tenaga kerja. Jadi, untuk mengerjakan 159.000 rumah rusak berat akibat gempa, butuh 101.489 buruh.

Tingginya permintaan buruh bangunan tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat gempa. Bahkan, sejumlah perajin kulit di Pucung, Imogiri, justru memilih menjadi buruh bangunan karena tidak membutuhkan modal usaha. Modal utamanya adalah fisik yang sehat. “Perajin yang peralatan produksinya hancur banyak yang banting setir menjadi tukang karena lebih praktis dan pendapatannya juga menjanjikan,” kata Ketua Paguyuban Pucung Bangkit Riyadi.

Akhir 2007 lalu Pemerintah Provinsi DIY telah mengumumkan pembangunan rumah rusak berat akibat gempa telah mencapai 100 persen. “Pembangunan rumah sudah selesai karena banyaknya bantuan dari berbagai pihak dan semangat bangkit para korban gempa,” tutur Tri Harjun Ismaji.

Setelah proyek rumah selesai, lalu bagaimana nasib para buruh bangunannya? Ke mana mereka akan menggantungkan hidup jika sektor ekonomi dan bisnis masih belum pulih? Inilah yang dikhawatirkan banyak pihak, yakni ledakan pengangguran baru. Padahal, angka pengangguran di Bantul akhir awal tahun 2007 sudah naik sekitar 21 persen.

Mudrajad Kuncoro dari Komite Percepatan Pemulihan Ekonomi Yogya Bangkit (KP2E Yo Bangkit) menuturkan, 2008 ini sudah saatnya pemerintah mulai fokus pada pengembangan ekonomi karena rekonstruksi rumah sudah selesai. “Ekonomi yang seharusnya mendapatkan perhatian besar adalah industri pengolahan yang sempat drop -11,9 persen pascagempa,” tuturnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s